Survey Roy Morgan Research : 52 Persen Rakyat Indonesia Menuntut Penerapan Syariah Islam

“Uneasy support seen for sharia”. Demikian headline The Jakarta Post 24 Juni 2008. Judul yang provokatif ini lebih kurang maknanya : Dukungan terhadap syariah yang mengkawatirkan. Pasalnya, sebuah survey menunjukkan bahwa mayoritas kaum Muslim Indonesia mendukung diterapkannya syariah untuk negara ini, walaupun ada kekhawatiran mengenai akibat penerapannya itu. Survey yang dilakukan oleh Roy Morgan Research itu, melibatkan 8,000 responden dari seluruh negeri, dan menemukan bahwa 52 persen orang Indonesia mengatakan bahwa Syariah Islam harus diterapkan di wilayah mereka.

Iklan

10 thoughts on “Survey Roy Morgan Research : 52 Persen Rakyat Indonesia Menuntut Penerapan Syariah Islam

  1. salam damai buat kita semua.

    alangkah bijaknya bila kita tau metodelogi apa yang digunakan si peneliti? untung2 ada datanya, kita bisa mendiskusikan dari berbagai sisi. Saya sebagai orang awam, masih belum memahami konteks penerapan syariat di negeri multi budaya ini. Kalaupun ada bagaimana dengan konsepsi dan aplikasinya? Mengingat di berbagai daerah yang sudah menerapkan perda2 syariah lebih kental nuansa politiknya ketimbang substansi syariat Islamnya sendiri. Islam hanya dijadikan wadah untuk menarik semua suara kepentingan politik. Syariat Islam lebih bijak jika tidak diterapkan dengan hal-hal yang sifatnya simbolik semata, seperti perda. karena hal ini justru mengurangi esensi dan hakihat syariat Islam yang seharusnya lebih substantif, ketimbang hanya sebuah peraturan formal. Kita harus berjuang dalam menegakkan syariat Islam, tapi bukan dengan cara mengintegrasikan syariat dengan nilai2 politik semata, YANG LEBIH PENTING syariat Islam harus diterapkan dengan pendektan kebiasaan, kebudayaan, agar capaiannya lebih terarah dan tepat sasadaran, serta ada keiklasan dalam menjalankannya.

    Allahua’lam bis showab.

    Salam Damai.
    Abu

  2. wa ‘alayka mirrobbiyassalaam war-rohmah wal-barokah..
    1. Alhamdulillah bisa bersilaturahim dengan saudara Abu
    2. Berkenaan hasil survey ini, kami hanya mengutipnya dari The Jakarta Post edisi 24 Juni 2008. alangkah lebih obyektifnya jika saudara cek sendiri ke situsnya:
    http://www.thejakartapost.com/news/2008/06/24/uneasy-support-seen-sharia.html
    atau bisa juga dilihat di:
    http://www.indonesiaheadlines.com/167290/uneasy-support-seen-for-sharia.html
    http://www.adnkronos.com/AKI/English/Religion/?id=1.0.2280943153
    – old.thejakartapost.com/detailheadlines.asp?fileid=20080510.@02&irec=1
    jadi hasil survey tersebut bukan rekayasa saya untuk kepentingan propaganda. tapi entah jika itu justru merupakan propaganda Barat untuk membikin gerah mereka yang anti syari’at dan akhirnya chaos dengan para pejuangnya, lagi-lagi barat imperialis yang akan diuntungkan, karena mereka paham betul bahwa satu-satunya ideologi yang mengancam eksistensi ideologi mereka -setelah runtuhnya sosialsisme komunisme- adalah Islam. lebih tepatnya islam yang diterapkan dalam ranah individu dan publik (masyarakat-negara).
    3. kami yang juga awam ini hanya akan menyampaikan bahwa Islam bukanlah sekedar simbol tapi juga operasional. yaitu Islam yang lengkap dengan infra dan suprastrukturnya.
    4. Islam di ranah politik yang memiliki stigma negatif, yaitu sarat kepentingan. bukanlah ini yang diharapkan. jadi jika saudaraku menjumpai orang-orang yang mengatasnamakan Islam demi kepentingan kelompoknya jangan kemudian mengeneralisir dengan mereka-mereka yang memperjuangkan syari’at islam dengan tulus ikhlash lillaah ta’aalaa.
    5. tentang “apakah simbol atau substansi yang harus diperjuangkan?”, kenapa harus dipisah-pisah, karena islam itu adalah substansi dan simbol maka keduanya hendaknya diperjuangkan secara bersamaan (jika memang perda atau perneg syari’at dianggap sebagai simbol, yang padahal menurut Al-Qur’an juga substansi). islam adalah akidah dan syari’ah, sehingga islam yang hanya dilaksanakan substansinya tanpa simbolnya adalah islam yang tidak normal, sebagaimana tidak normalnya orang waras yang tanpa busana di muka umum (maaf).
    sekian dulu..
    terimakasih atas atensinya
    wassalam…
    elwatsiq

  3. salam hangat selalu,

    menarik kiranya bila kita intens bersilaturahmi minimalnya berdiskusi lewat blog. elwatsiq, sebelumnya apa definisi syariat Islam menurut antum, apa makna khilafah islamiyah pada masa khulafaur-rasyidin? apakah penerapan syariat adalah sesuatu yang mutlak harus di terapkan secara formal oleh negara? mengingat dalam Islam sendiri ada 73 golongan, dan tentunya ada 73 perbedaan, kelompok Islam manakah yang akan diselamatkan Allah kelak dikemudian hari, mengingat masing2 kelompok mengaku bagian dari umat nabiyullah Muhammad SAW?

    Thanks before.
    Wassalam.

  4. salam hangat kembali dan rahmat serta barokah Allah atas kita semua…

    dengan senang hati…
    Insya’allah semoga silaturahim dan diskusi ini membawa manfa’at, selama bertujuan mencari kebenaran. kami setuju dengan tawaran saudara untuk memulai dulu pembahasan dengan penyamaan definisi untuk istilah-istilah yang kita bahas dan gunakan, sehingga pembicaraan tidak semrawut.

    1. pertama, kami rasa perlu menentukan apa itu kebenaran menurut masing-masing dari kita? sehingga tidak ada klaim benar-salah tanpa tahu parameternya. kalau menurut kami sederhana, sesuatu dikatakan benar jika SESUAI. artinya, kebenaran adalah persesuaian antara ungkapan dengan kenyataan. jika saudara setuju kita lanjut, jika kurang silahkan apa menurut saudara?
    – sekaligus kami jawab pertanyaan saudara kemarin:
    “mengingat dalam Islam sendiri ada 73 golongan, dan tentunya ada 73 perbedaan, kelompok Islam manakah yang akan diselamatkan Allah kelak dikemudian hari, mengingat masing2 kelompok mengaku bagian dari umat nabiyullah Muhammad SAW?”.
    satu golongan yang selamat di antara 73 gol. itu adalah golongan yang “benar”. jika melihat definisi kami tentang kebenaran tadi, maka golongan yang benar adalah golongan yang realitanya sama dengan ungkapan sang penentu kebenaran (Allah SWT – RasulNya). contoh sederhana, muslim yang benar menurut Allah di dlm Al-qur’an adalah yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, jika fakta tidak sesuai atau seseorang tidak sholat atau berzakat maka orang tersebut dikatakan salah, ini terlepas dari organisasi, madzhab, partai apa dia berasal. selama sesuai kita bisa mengklaim sebagai yang benar (klaim yang beralasan).

    2. syari’at ISlam menurut kami adalah sistem/aturan yang mengatur hubungan kita thd Allah SWT, terhadap sesama dan terhadap diri kita sendiri.

    3. makna khilafah Islamiyah di masa khulafa’ rasyidun (hingga saat ini) adalah kepemimpinan umum atas kaum muslimin mengganti peran Rasulullah dalam menyebarkan Risalah ISlam ke seluruh penjuru dunia. lebih jelasnya silakan baca tulisan kami di:
    https://elwatsiq.wordpress.com/about/

    4. kenapa penerapan syari’at harus dengan negara?, memang Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan secara eksplisit kepada kaum muslimin untuk mendirikan negara, karena istilah negara juga saat itu belum ada, fakta saat itu menunjukkan sebelum datangnya Islam masyarakat arab hidup dalam kabilah-kabilah (tidak dlam bentuk negara) sebagaimana Indonesia dulu juga berupa kerajaan-kerajaan (eks. majapahit, sriwijaya, demak dll). namun pada faktanya Islam turun tidak hanya berupa aturan yang mengatur individu, tapi juga keluarga dan masyarakat (komunitas yang hidup dalam suatu sistem/aturan tertentu), dikemudian hari sistem masyarakat tsb dinamakan pemerintahan negara/state/daulah.

    5. kenapa harus khilafah, karena sistem islam bersifat khas sehingga tidak sembarangan negara bisa menerapkannya. harus didukung dengan ideologi yang menjadi landasan negara tersebut. jadi antara konsep dan metode harus sejalan. kritikan atas ideologi yang ada saat ini, tidak perlu kami yang menyampaikan, silakan renungkan perkataan berikut:
    “…semboyan-semboyan dari lima pokok Pancasila itu, adalah merupakan semboyan-semboyan yang bagus dan menarik, tapi sayang, sekali lagi sayang,bahwa Pancasila itu sendiri tidak mempunyai pedoman untuk mempraktekkan ajarannya itu dengan batas-batas serta saluran-saluran yang kongkrit. Sehingga merupakan semboyan-semboyan yang sukar dibuktikan kenyataannya dengan kongkrit….”
    [KH. Ahmad Zaini, Tokoh NU dalam sidang di Majelis Konstituante]
    sumber:
    http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6947&Itemid=60

    sekian dulu
    wassalam ‘alek..

  5. assalamu’alaikum

    sepakat bro

    sederhananya…
    a workable analogy of khalifa and khilafa is president and presidency or king and monarchy]

    atw…

    sebuah konstitusi mutlak membutuhkan institusi untuk menjaga dan menerapkannya.
    nah, begitu juga dengan konstitusi shariat islam yang membutuhkan konstitusi khilafah
    [In Turkey, Mustapha Kemal Pasha last week announced that the Califate henceforth will be personified by the Turkish Parliament TIME, Mar. 24, 1924]

    majalah time saja menyebutnya califate (the word ‘califate‘ is the english form of the arabic word ‘khilafa’, in the context of Islam, is used to denote the government of the muslim state)
    masak kita kalah sama para reporter disana.

    salam kenal 😀

  6. subhanallah. sungguh baik penjelasan dari Mr elwatsiq.

    Sy netral lho…bkn dr golongan manapun….

    scr logika apa yg dinyatakan sangat realistis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s