MENGURAI BENANG KUSUT PERBEDAAN

Oleh: elwatsiq bil-haqq

Meskipun terkenal sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, ternyata Indonesia juga menyimpan puluhan bahkan ratusan macam karakter keberagamaan, bahkan di tubuh umat Islam sendiri terdapat banyak sekali perbedaan. Terlebih lagi pasca terjadinya Reformasi pada tahun 1998 yang merupakan pintu bergulirnya paham kebebasan di negeri ini, bak gelombang air bah kemunculan aliran atau paham baru ke muka publik seakan liar tak terbendung.

Rupanya hal tersebut tidak menjadikan Negeri ini dan umat Islam khususnya menjadi lebih baik, kebebasan tanpa filter itu bahkan telah menyisakan luka yang luar biasa menyakitkan. Mulai dari pemerintah hingga rakyat pada umumnya seakan dibuat bingung dengan kondisi dimana setiap golongan menganggap dirinya paling benar dan di waktu yang sama juga dianggap salah oleh yang lainnya, hal ini terjadi saat parameter penentu benar-tidaknya suatu ajaran diabaikan begitu saja dan terasa semakin kabur dengan begitu banyaknya kepentingan yang biasanya berkedokkan HAM dan Kebebasan Berpendapat. Cukuplah kekurangtegasan pemerintah beberapa saat lalu dalam menindak ajaran Ahmadiyah sebagai salah satu contohnya.

Secara singkat ajaran Islam sebenarnya hanya terdiri dari dua dimensi, Akidah dan Hukum Syariah. Keduanya dibangun berdasarkan Quwwatud-dalîl (kekuatan dalil), baik itu dalil Al-Qur’ân maupun Al-Hadîts, baik dari segi tsubût (keotentikan dalil), mapun dari segi dilâlah (penunjukan dalil). Oleh karena itulah maka Akidah dan Hukum Syariah yang dibangun berdasarkan dalil yang kuat tidak bisa diruntuhkan begitu saja atau disangsikan kebenarannya, hanya saja yang membedakan antara dalil Akidah dan Hukum Syariah adalah ke-qath’i-annya (sifat pastinya). Untuk Akidah, karena berupa i’tiqâd (keyakinan) maka dalil yang dijadikan sandaran hendaknya bersifat qath’i (pasti), karena tidak mungkin meyakini sesuatu yang dibangun di atas fondasi yang bersifat dzanni (dugaan), dalil yang bersifat qath’i adalah Al-Qur’ân dan Hadîts Mutawâtir. Sedangkan untuk Hukum Syariah, dalil yang dijadikan sandaran tidak harus qath’i, karena tidak menyangkut i’tiqâd melainkan menyangkut ‘amaliyyah (praktis), sehingga dalil yang bersifat dzanni pun juga bisa dijadikan sandaran, dalil yang bersifat dzanni adalah Hadîts Âhâd, namun tidak serta-merta semua Hadîts Âhâd bisa digunakan untuk ber-istidlâl (berargumen), perlu dilakukan pengkajian terlebih dahulu atas ke-tsubût-annya, untuk mengetahui apakah derajatnya shahîh, hasan atau dha’îf.

Dalam hal apa sajakah umat Islam tidak boleh berbeda antar satu dengan yang lainnya? dan dalam hal apa mereka boleh berbeda? Pertanyaan ini rupanya penting untuk bisa dijawab oleh setiap muslim, supaya menjadi jelas di hadapannya, perbedaan yang bagaimana yang masih bisa ditolerir oleh Islam, dan perbedaan yang seperti apa yang dilarang, sehingga dia tidak mudah menyalahkan muslim lainnya sebagaimana juga tidak sembarangan membenarkannya.

Dengan meneliti penjelasan singkat pada paragraf ke-tiga di atas akan ditemukan, bahwa perbedaan tidak boleh terjadi dalam hal Akidah karena landasannya adalah dalil qoth’i (baik dari segi tsubût maupun dilâlah), misalnya keimanan kepada Muhammad bin Abdillah sebagai utusan Allah SWT dan nabi terakhir, Allah SWT telah Berfirman yang artinya:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (TQS. Al-Ahzâb : 40).

Dari segi tsubût, karena diriwayatkan secara mutawatir ayat Al-Qur’an di atas adalah kuat dan qath’i, sedangkan dari segi dilâlah, secara sharîh (jelas) dan pasti ayat tersebut menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir, tidak ada lagi pengertian lain selain itu. Sehingga keyakinan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir adalah keyakinan yang bersifat pasti, dan tidak boleh diperdebatkan lagi, dan sebaliknya keyakinan bahwa ada nabi lagi setelah Beliau adalah keyakinan yang tidak benar alias kliru. Perbedaan juga haram terjadi dalam hal Hukum Syariah yang dibangun berdasarkan dalil qath’i (baik dari segi tsubût maupun dilâlah), misalnya hukum pelaksanaan Sholat Fardhu, Puasa, Zakat, Potong Tangan bagi pencuri dan lain-lain.

Perbedaan baru diperbolehkan jika menyangkut perkara-perkara yang dibangun berdasarkan dalil dzanni. Dr. Yusuf bin Abdillah Asy-Syubaili dalam bukunya Fiqhul-Khilâfi Wa Atsaruhu Fil-Qadhâ’i ‘Alal-Irhâbi juz 1 halaman 10 menjelaskan, bahwa perbedaan yang terpuji/diperbolehkan adalah perbedaan dalam perkara-perkara dzanniyyah. Maksudnya adalah perkara-perkara yang dibangun berdasarkan dalil dzanni, baik itu dzanni stubût meskipun qath’i dilâlah, ataupun dzanni dilâlah meskipun qath’i tsubût, baik dikarenakan faktor ta’bîr (ungkapan) maupun faktor tarkîb (susunan), misalnya hukum membaca Doa Qunut pada waktu Shalat Shubuh, mengangkat tangan ketika hendak ruku’ dan lain-lain. Adapun kebenaran yang dicapai pada tingkatan ini adalah bersifat ghalabatudz-dzann (dugaan terkuat) dan berpotensi untuk salah. Ini semua tentunya setelah melalui proses tarjîh (seleksi) yang ketat dengan menggunakan metode istinbâth (penggalian hukum) yang diperbolehkan oleh syara’. Pada point inilah perbedaan antar madzhab fiqh yang sering kita jumpai terjadi.

Bahasa Arab sebagai kunci untuk memahami kandungan Al-Qur’ân dan Al-Hadîts serta kesadaran berpolitik (dengan pengertian memperhatikan atau mengurus urusan umat dalam dan luar negeri), keduanya juga tidak boleh lepas dari perhatian umat Islam, selain merupakan kewajiban juga agar umat tidak lagi mudah dibodohi dan diadu-domba, diombang-ambingkan laksana buih di lautan. Wallâhu A’lam wa Ahkam.

Iklan

One thought on “MENGURAI BENANG KUSUT PERBEDAAN

  1. Ass wr wb
    Waduh…saya juga sempat stress dan bingung menyaksikan perbedaan pendapat dikalangan umat islam yang saling hujat, menyalahkan satundengan lainnya, yang kadang kala berakhir dengan pertumpahan darah.

    Namun setelah saya baca dan pelajari Qur’an saya menemukan kesejukan, kedamaian, ketenangan. Umat Islam pecah belah hanya karena perbedaan pendapat dikalangan pemimpin dan ulamanya. Perbedaan pendapat adalah hal yang natural , tidak bisa dicegah. Biarkanlah pendapat itu berbeda , kembalikan kepada Allah, jangan emosi memaksakan kehendak pada golongan lain. Kembalilah pada Al-Qur’an, utamakan al-Qur’an diatas segala pendapat yang berbeda itu. Hanya Qur’an yang bisa mempersatukan umat.

    Jika setiap pribadi muslim betul betul berpegang teguh pada Qur’an tidak akan ada perpecahan dikalangan umat Islam. Saya sungguh sungguh menemui kedamaian , kenyamanan, dan ketenangan dengan membaca dan mentadabburi Qur’an setiap hari, mariu kita semua kembali kepada Al-Qur’an yang menyejukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s